Tim GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium) dalam upayanya menekan beredarnya garam tidak mengandung yodium, melakukan pemantauan setiap tahunnya ke pasar-pasar. Pantauan dilakukan dengan menguji kandungan yodium pada garam secara langsung yang dijual dipasaran.
Sembilan pasar yang dijadikan sebagai sample, dianggap cukup mewakili untuk dijadikan patokan beredarnya garam beryodium dipasaran. Dari hasil pantauan yang dilakukan pada medio April-Mei lalu diketahui bahwa garam yang dikategorikan cukup kadar yodiumnya ada 57,14 %, kategori kurang 20,41 %, dan tidak ada kandungan kadar yodiumnya 22,45%.
Hal tersebut terungkap saat rakor Tim Gaky yang dilaksanakan Kamis (14/7) di aula DKK Kendal. Koordinator Tim Gaky Endang Jumini mengatakan, dari hasil temuan tahun ini, garam yang beredar dan tidak mengandung yodium mengalami peningkatan signifikan. " Kalau tahun 2015 ditemukan garam yang tidak mengandung yodium adalah 7,3 %", katanya.
Rakor Tim Gaky yang berasal dari lintas sektoral, menyepakati untuk tahun depan sasaran pantauan garam beryodium tidak hanya di pasar-pasar tetapi di perluas ke lembaga-lembaga pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal. Hal ini dianggap penting dalam rangka memberikan perlindungan bagi para siswa/santri. Karena di Kendal dengan diberlakukannya 5 hari sekolah membuat para siswa bergantung pada kantin sekolah. Terlebih di Kendal juga berdiri pondok-pondok pesantren dengan jumlah santri mencapai ribuan.
Karena pentingnya kandungan yodium dalam tubuh, maka keberadaannya harus terus disosialisasikan kepada masyarakat, agar tercipta masyarakat sehat. Dimasukkanya yodium pada garam karena menurut Endang Jumini bahwa garam hampir bisa dipastikan dikonsumsi oleh semua masyarakat dan harganya sangat terjangkau. Sehingga melalui garam beryodium inilah diharapkan masyarakat dengan sendirinya telah mampu mencukupi kebutuhan yodium dalam tubuhnya.
Dicontohkan oleh Endang Jumini, apabila kekurangan yodium pada ibu hamil, bisa menyebabkan abortus, bayi meninggal, kretin/kerdil, gangguan fungsi mental, kecerdasan dan pertumbuhan rendah. (kris/hms)