Berita Terkini


KAMPUNG JOWO SEKATUL GELAR NGUDANG DEWI SRI

Kamis, 06 Oktober 2016 22:22:58

Limbangan - Ratusan masyarakat adat dan tokoh adat dari Jawa Tengah berkumpul di Kampoeng Djowo Sekatul di Desa Mergosari, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, kemarin malam. Keberadaan mereka untuk melakukan ritual tradisi “Ngudang Dewi Sri”.

Ritual tradisi ini dilakukan sebagai ucapan terima kasih masyarakat kepada Dewi Sri yang merupakan dewi padi dan Sadono sebagai dewa hasil bumi. Dalam tradisi itu, ratusan warga tampak berebut wayang padi dan hasil bumi.

Pantauan, prosesi ritual ngudang Dewi Sri itu digelar di paseban balai utama Kampoeng Djowo Sekatul. Turut terlibat dalam ritual ini, sejumlah tokoh adat Jawa dan raja-raja nusantara. Ritual tradisi ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur masyarakat kepada Dewi Sri yang diyakini sebagai dewi padi dan Sadono sebabagi dewa hasil bumi, yang keduanya melambangkan kemakmuran.

Prosesi tradisi diawali dengan pembacaan doa dan penyucian terhadapa lima sesaji sedekah bumi. Selain itu, salah seorang tokoh adat Jawa, juga memercikkan air kepada peserta tradisi sebagai upaya penyucian diri. Kemudian, diiringi prajurit bersenjata tombak dan pedang, lima sesaji berupa dua sesaji wayang padi dan tiga sesaji hasil bumi gunungan, dikirab dengan dipimpin oleh tokoh adat Jawa yang membawa dupa dan sesaji menuju bangsal Agung Saridin.

Tampak dalam prosesi kirab tersebut Kanjeng Raden Ayu Dinar Retno Djenoli, sebagai wujud dewi sri. Setelah sampai di Bangsal Saridin, prosesi ritual ngudang dewi sri dimulai dengan tarian empat penjuru arah mata angin. Prosesi ritual dilakukan dengan khidmat dan diiringi tembang-tembangan Jawa yang merupakan  cara untuk ngudang Dewi Sri.

Selanjutnya, oleh KPHA Djojonegoro, beberapa ikat padi  yang telah dibentuk menjadi tokoh Dewi Sri dan Sadono diambil untuk dibagikan kepada masyarakat. Setelah proses ritual selesai, wargapun langsung berebut gunungan padi yang telah dibentuk menjadi wayang dengan wujud dewi sri dan sadono. Tak hanya itu warga juga meperebutkan hasil bumi berupa buah-buahan dan sayuran.

”Ini adalah wilujengan Dewi Sri yang kita selenggarakan rutin setiap setahun sekali. Bahwa ini adalah tradisi adi luhung peninggalan leluhur kita yang sudah punah terus kita bangkitkan kembali. Disini terjadi suasana yang tenteram, damai dan menjadi keyakinan dari para yang hadir bahwa ini adalah berkah bagi kita semua,” kata KPHA Djojonegoro, Sesepuh Kampoeng Djowo Sekatul.

Menurut Raja Kasultanan Talo Makasar, Abdul Rauf Maro Kraeng Rewa, bahwa ritual ngudang Dewi Sri memiliki makna menghibur Dewi Sri sebagai ucapan syukur terhadap hasil bumi. Bagi masyarakat Jawa, Dewi Sri dipercaya sebagai sosok seorang dewi kemakmuran dan kesuburan terutama padi. “Tradisi ini adalah perwujudan tatanan yang harus ditumbuh kembangkan yang kemudian menjadi cikal bakal dikemudian hari untuk diteruskan kepada anak cucu,” terang dia.

Pada tradisi ngundang Dwi Sri itu, wayang padi dan hasil bumi itu kemudian diperebutkan warga untuk disimpan sebagai berkah kemakmuran dan kesuburan.“Ini hasil bumi nanti mau tak  taruh di dapur dan di ruang tamu, ya buat berkah,” ungkap Juariyah, warga setempat...(05a/hms)


Indeks Berita