Sejumlah tokoh masyarakat Kendal baik yang kini tinggal di Kendal maupun diluar Kendal turut menghadiri Sarasehan Membangun Kendal di Tirtoarum Kendal Rabu (28/6). Acara digelar dengan memanfaatkan waktu mudik dimana para tokoh itu masih berada di Kabupaten Kendal. Selain Zainal Abidin Ishak ayahanda Bupati Kendal dr Mirna Annisa, hadir juga Ganapati Satyani mantan salah satu manajer PT Pertamina, Chay Asdak pakar hidrologi asli Kendal yang kini bekerja di Universitas Padjajaran Bandung, Tyas Midono Kepala Bagian Protokol Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, , Bambang (benk) tokoh pendidikan karakter, dan Latifah event organizer yang bermitra dengan beberapa kementerian.
Dari Kendal hadir juga antara lain Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Drs Muryono SH MPd, Kepala Dinas Perhubungan Moh Toha ST MSi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Drs Agus Rifai , mantan anggota DPRD Kendal Mokhamad Arif, para aktifis pemuda, sosial, UKM, dan lain-lain.
Moderator sarasehan Muhammad Kundarto dosen asal Kendal yang kini mengajar di salah satu perguruan tinggi Yogyakarta mengawali acara dengan menyampaikan situasi dan kondisi Kabupaten Kendal saat ini ditinjau dari sisi geografis yang sedang menghadapi beberapa permasalahan seperti banjir, jalan tol, kawasan industri, dan lain-lain. Dengan adanya jalan tol berpotensi menimbulkan beberapa permasalahan baik ekonomi, lingkungan, maupun sosial. “Yang tadinya satu RT atau RW bisa juga terbelah tol dan menjadi terpisah satu dengan lainnya karena tidak ada komunikasi. Program konversi 30 - 40 hektar lahan pertanian di Jawa keluar Jawa pertahun perlu ditinjau ulang mengingat tingkat kesuburan tanahnya juga berbeda dan susah direalisasikan dalam waktu singkat karena juga membutuhkan infrastruktur pengairan.”
Para peserta sarasehan begitu antusisas menyampaikan ide dan gagasannya. Zainal Abidin Ishak mantan Kapolda dan pengajar di Lemhanas menyampaikan beberapa pesan Bupati Mirna Annisa. “Bupati Mirna Annisa sangat mengapreasi sarasehan ini karena dapat dijadikan sarana penghubung antara masyarakat dengan pemerintah daerah. Selain itu beliau juga menginginkan agar di Kabupaten Kendal tumbuh beberapa centre of exellent”, ujar Zainal. “Ide centre of exellent itu diarahkan untuk merubah Kendal dari apa adanya menjadi Kendal ada apanya. Dengan adanya jalan tol Kendal harus mengantisipasi agar perekonomian tetap tumbuh dengan dengan baik. Jangan seperti yang terjadi di Kabupaten Indramayu ataupun Purwakarta. Karena itu dengan adanya beberapa rest area dan titik tol exit diharapkan dapat dijadikan sebagai media promosi produk UKM Kendal dan sebagai daya ungkit perekonomian di daerahnya baik di bidang pariwisata maupun pertanian”. Zainal menyampaikan juga 3 pilar pengukur keberhasilan yaitu adam (aman dan damai), adem (adil dan makmur), dan bahtera (bertambah sejahtera).
Sementara Chay Asdak menilai kehadiran jalan tol harus diambil sisi positifnya yakni makin memperlancar arus barang dan jasa, jalan tol harus mampu menjadi centre of growth daerah. Yang harus diperhatikan juga adalah isu terkait lingkungan seperti berkurangnya lahan pertanian dan kerusakan alam. Terkait banjir, Asdak menilai sungai menjadi mampet karena terjadinya pendangkalan. “Kita jangan hanya membangun jalan saja tanpa memperhatikan drainase. Terjadinya banjir di Bandung lebih karena disebabkan kurangnya drainase jalan. Sudah saatnya kita mengubah bencana menjadi sumber-sumber ekonomi baru,” papar Asdak yang masa kecilnya tinggal disebelah selatan Masjid Agung Kendal.
Ganapati Satyani yang menjadi salah satu anggota Tim Seleksi Sekretaris Daerah Kabupaten Kendal turut urun rembug, “Kita harus mampu mengembalikan kerugian kehilangan lahan pertanian dan nilai produksi pangan, misalnya dengan mendirikan perusahaan daerah SPBU dan menggarap rest area dengan seoptimal mungkin”. Terkait pembangunan infrastruktur jalan Ganapati mengharapkan Pemkab cerdas dalam menyikapi regulasi yang ada. Perencanaan pembangunan selain harus disinkronkan dengan pembangunan nasional dan provinsi juga harus selalu disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi terkini yang dinamis.
Latifah yang lebih akrab dipanggil dengan Mbak Tiitik menyampaikan beberapa tawaran kerjasama baik UKM maupun pariwisata yang dapat diangkat menjadi event nasional. Latifah sangat antusias merespon informasi yang disampaikan oleh satu peserta dari Kaliwungu terkait beberapa event untuk menjadikan Kaliwungu sebagai pusat wisata religi dan kuliner. “Untuk pembuatan proposal ke kementerian kami siap membantu dengan senang hati,” jawabnya menghadapi kesulitan yang dihadapi oleh peserta.(1Kom)