Berita Terkini


PEMKAB KENDAL SELENGGARAKAN UPACARA PERINGATAN HARKITNAS 2019

Senin, 20 Mei 2019 11:12:54

Kendal- Pemerintah Kabupaten Kendal melaksanakan upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) Ke 111 dan Hari Keasripan Nasional yang ke-48 tahun 2019, Senin (20/5/2019) bertempat di Alun-alun Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Kegiatan tersebut diikuti oleh Bupati Kendal, dr. Mirna Annisa, M.Si., Wakil Bupati Kendal, H. Masrur Masykur, Sekda Kendal, Moh Toha, Para Kepala OPD di Lingkungan Setda Kendal, Forkopimda Kendal, Camat se-Kabupaten Kendal, kepala desa/keluarahan se-Kabupaten Kendal, para pimpinan BUMD dan BUMN, serta para mahasiswa di Kabupaten Kendal.

Dalam kegiatan tersebut bertindak sebagai pemimpin upacara yaitu Kapolres Kendal. Dalam sambutannya ia menyampaikan amanat dari Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Rudiantara., S.Stat. MBA., yang mengatakan bahwa dalam naskah Sumpah Palapa yang ditemukan pada Kitab Pararaton yang tertulis berbunyi Sira Gajah  Madapatih  Amangkubhumi  tan  ayun  amuktia  palapa,  sira  Gajah  Mada:  "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring  Haru,  ring  Pahang,  Dompo, ring  Bali,  Sunda,  Palembang,  Tumasik, samana isun amukti palapa".

“Memang ada banyak versi tafsiran atas teks tersebut, terutama tentang apa yang dimaksud dengan "amukti palapa". Namun, meski sampai saat ini masih belum diperoleh pengetahuan  yang  pasti,  umumnya  para  ahli  sepakat  bahwa  amukti  palapa  berarti sesuatu yang berkaitan dengan kesenangan diri sang Mahapatih Gajah Mada. Artinya, ia tak akan menghentikan mati raga atau puasanya sebelum mempersatukan Nusantara,” tutur AKBP Hamka.

Lanjut AKBP Hamka, Sumpah  Palapa  tersebut  merupakan  embrio  paling  kuat  bagi  janin  persatuan Indonesia. Wilayah Nusantara yang disatukan oleh Gajah Mada telah menjadi acuan bagi perjuangan berat para pahlawan nasionaluntuk mengikat wilayah Indonesia seperti yang secara de jure terwujud dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang ke-111, 20 Mei 2019, kali ini sangat relevan  jika  dimaknai  dengan  teks  Sumpah  Palapa  tersebut. Kita  berada  dalam  situasi pasca-pesta demokrasi yang menguras energi dan emosi sebagian besar masyarakat kita. Kita  mengaspirasikan  pilihan  yang  berbeda-beda  dalam  pemilu,  namun  semua  pilihan pasti  kita  niatkan  untuk  kebaikan  bangsa.  Oleh  sebab  itu  tak  ada  maslahatnya  jika dipertajam dan justru mengoyak persatuan sosial kita.

“Alhamdulillah,  sampai  sekarang  ini  tahap-tahap  pemilihan  presiden  dan  wakil presiden serta anggota legislatif berlangsung dengan lancar. Kelancaran ini juga berkat pengorbanan  banyak  saudara-saudara  kita  yang  menjadi  anggota  kelompok penyelenggara pemungutan suara, bahkan berupa pengorbanan nyawa. Sungguh mulia perjuangan mereka untuk menjaga kelancaran dan kejujuran proses pemilu ini. Sambil mengirim doa bagi ketenangan jiwa para pahlawan demokrasi tersebut, alangkah eloknya jika kita wujudkan ucapan terima kasih atas pengorbanan mereka dengan bersama-sama menunggu secara tertib ketetapan penghitungan suara resmi yang akan diumumkan oleh lembaga yang ditunjuk oleh undang-undang, dalam waktu yang tidak lama lagi,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, bahwa telah  lebih  satu  abad  kita  menorehkan  catatan  penghormatan  dan  penghargaan  atas kemajemukan bangsa yang ditandai dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo. Dalam kondisi  kemajemukan  bahasa,  suku,  agama,  kebudayaan,  ditingkah  bentang  geografis yang  merupakan  salah  satu  yang  paling  ekstrem  di  dunia,  kita  membuktikan  bahwa mampu menjaga persatuan sampai detik ini. Oleh sebab itu, tak diragukan lagi bahwa kita pasti akan mampu segera kembali bersatu dari kerenggangan perbedaan pendapat, dari keterbelahan sosial, dengan memikirkan kepentingan yang lebih luas bagi anak cucu bangsa ini, yaitu persatuan Indonesia.

Apalagi peringatan Hari Kebangkitan Nasional kali ini juga dilangsungkan dalam suasana bulan Ramadan. Bagi umat muslim, bulan suci ini menuntun kita untuk mengejar pahala  dengan  meninggalkan  perbuatan-perbuatan  yang  dibenci  Allah  SWT  seperti permusuhan dan kebencian, apalagi penyebaran kebohongan dan fitnah. Hingga  pada akhirnya, pada ujung bulan Ramadan nanti, kita bisa seperti Mahapatih Gadjah Mada, mengakhiri puasa dengan hati dan lingkungan yang bersih berkat hubungan yang kembali fitri dengan saudara-saudara di sekitar kita.Dengan semua harapan tersebut, kiranya sangat relevan apabila peringatan Hari Kebangkitan Nasional, disematkan tema "Bangkit Untuk Bersatu". Kebangkitan untuk Persatuan.

Ia menuturkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar. Yang  telah mampu terus menghidupi semangat persatuannya selama berabad-abad. Kuncinya ada dalam dwilingga salin suara berikut ini: gotong-royong.Ketika  diminta  merumuskan  dasar  negara  Indonesia  dalam  pidato  di  hadapan Badan  Penyelidik  Usaha-usaha  Persiapan  Kemerdekaan  Indonesia,  Bung  Karno, menawarkan  Pancasila  yang  berintikan  lima  asas. Namun  Bapak  Proklamator  Republik Indonesia tersebut juga memberikan pandangan bahwa jika nilai-nilai Pancasila tersebut diperas ke dalam tiga sila, bahkan satu “sila” tunggal, maka yang menjadi intinya inti, core of the core, adalah gotong-royong.

Menurut Bung Karno, kata Kapolres Kendal tersebut, “Jika kuperas yang lima ini menjadi satu, maka dapatlah aku satu  perkataan  yang  tulen,  yaitu  perkataan  gotong  royong.  Gotong-royong  adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama.  Amal  semua  buat  kepentingan  semua,  keringat  semua  buat  kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!”.

Ia menerangkan, yel-yel “holopis-kuntul baris” adalah aba-aba nenek moyang kita di tanah Jawa, digunakan  sebagai  paduan  suara  untuk  memberi  semangat  ketika  mengerjakan  tugas berat  yang  hanya  bisa  dikerjakan  secara  bergotong-royong,  bersama-sama. Yel-yel  ini disorakkan ketika kita membutuhkan gerak yang seirama, agar tujuan kita satu semata, bagaikan barisan burung bangau yang sedang terbang berbaris di angkasa. Bukan  hanya  di  tanah  Jawa,  semangat  persatuan  dan  gotong-royong  telah mengakar dan menyebar di seluruh Nusantara. Ini dibuktikan dengan berbagai ungkapan tentang  kearifan  mengutamakan  persatuan  yang  terdapat  di  seluruh  suku,  adat,  dan budaya yang ada di Indonesia.

Sebagaimana diserukan oleh Bapak Presiden Joko Widodo pada pidato di Depan Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 2018 lalu, dari  tanah  Minang  kita  diimbau dengan  petuah  ‘Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang’. Kita juga diwarisi pepatah Sunda yang berbunyi 'Sacangreud pageuh, sagolek pangkek’.  Dari  Bumi  Anging  Mamiri,  kita  bersama-sama  belajar ‘Reso temma-ngingi, nama-lomo, nale-tei, pammase dewata’. Dari Bumi Gora, kita diminta: ‘Bareng bejukung, bareng  bebose’.  Dari  Banua  Banjar  kita  bersama-sama  menjunjung  ‘Waja  sampai kaputing’. Semua menganjurkan bekerja secara gotong-royong.

“Meski terus digali dari kearifan nenek-moyang kita yang telah dipupuk selama berabad-abad, namun sejatinya  jiwa  gotong-royong  bukanlah  semangat  yang  sudah  renta. Sampai kapan  punsemangat ini akan senantiasa  relevan, bahkan  semakin  mendesak  sebagai sebuah tuntutan zaman yang sarat dengan berbagai perubahan,” kata Kapolres Kendal tersebut.

Disampaikan oleh Kapolres Kendal, bahwa dengan bertumpu  pada  kekuatan  jumlah  sumber  daya  manusia  dan  populasi pasar, Indonesia diproyeksikan akan segera menjemput harkat dan martabat baru dalam aras  ekonomi  dunia.  Bersama  negara-negara  besar  lainnya  seperti  Tiongkok,  Amerika Serikat,  India,  ekonomi  Indonesia  akan  tumbuh  menjadi  sepuluh  besar,  bahkan  lima besar dunia, dalam 10 sampai 30 tahun mendatang. Kuncinya terletak pada hasrat kita untuk tetap menjaga momentum dan iklim yang tenang untuk bekerja. Kita harus jaga agar suasana selalu kondusif penuh harmoni dan persatuan.

“Akhir kata, saya haturkan selamat memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang keseratus sebelas, seraya mengajak agar kita semua sebagai sesama anak bangsa secara sadar memaknai peringatan kali ini dengan memperbarui semangat gotong-royong dan kolaborasi, sebagai warisan kearifan lokal yang akan membawa kita menuju kejayaan di pentas global,” tutup Kapolres Kendal mengakhiri sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika tersebut.

Usai upacara dilanjut dengan penyerahan hadiah kepada para juara lomba tata kelola keasripan desa dan kelurahan tingkat Kabupaten Kendal yang diserahkan langsung oleh Bupati Mirna. Juara satu diaraih Desa Margorejo Kecamatan Cepiring, jura dua, Desa Sarirejo Kecamatan Kaliwungu, juara tiga, Desa Kaliyoso Kecamatan Kangkung, juara harapan satu, Desa Tlogopayung Kecamatan Plantungan, juara harapan dua, Desa Kebumen Kecamatan Sukorejo, dan juara harapan tiga yaitu Desa Bebengan Kecaman Boja.

(Diskominfo/HR)

 


Indeks Berita