Berita Terkini


Haul Kiai Aqrobuddin Tahun 2022, Antin : Tradisi Harus Terus Dilestarikan

Selasa, 29 November 2022 16:30:14

Kendal - Kiai Aqrobuddin merupakan tokoh yang pertama mendirikan Desa Kaliyoso. Beliau senantiasa melaksanakan kewajibannya sebagai seorang tokoh ulama, yaitu memberikan syiar-syiar Islam di daerah tersebut, seperti mengajar ngaji dan menjadi imam masjid yang dibangunnya.

Dinamakan Desa Kaliyoso ini dikisahkan pada saat Kiai Aqrobuddin dan Ki Ageng Kemangi dalam membuat saluran kali atau saat ini disebut dengan irigasi. Yaitu Kali yang berarti sungai, dan Yoso yang berarti membuat atau membangun, yang dapat dipahami secara bahasa yaitu sebuah usaha untuk membuat kali atau sungai.

Kiai Aqrobuddin dikenal sebagai tokoh yang memiliki kharismatik serta memiliki sifat yang sangat dermawan. Beliau sering membagi-bagikan padi simpanannya kepada masyarakat setempat ketika Belanda merampas secara paksa semua padi simpanan masyarakat Kaliyoso. Anehnya, lumbung padi milik Kiai Aqrobuddin tidak terlihat berkurang, bahkan dibagikan juga kepada masyarakat luar daerah Kaliyoso yang kekurangan bahan makanan.

Hal itu disampaikan oleh Camat Kangkung, Antin saat menyampaikan sambutan Bupati Kendal, Dico M Ganinduto, B.Sc saat menghadiri haul Kiai Aqrobuddin Tahun 2022 di Masjid Desa Kaliyoso, Selasa (29/11/2022).

"Keberadaan Kiai Aqrobuddin ini sangat mengganggu usaha Belanda untuk dapat menguasai daerah Kaliyoso yang memang sejak dahulu diincar karena kekayaan alamnya tersebut. Berbagai cara pun dilakukan oleh Belanda untuk dapat menangkap Kyai Aqrobuddin. Namun, dalam kurun waktu yang lama Belanda tak juga dapat menemukan keberadaan Kiai Aqrobuddin," lanjut Antin.

Menurut Antin, setelah ditangkap, Kiai Aqrobuddin direncanakan akan dibunuh. Namun, usaha mereka untuk membunuh Kiai Aqrobuddin tadi tak berhasil. Akhirnya Kiai Aqrobuddin disiksa dengan posisi tubuh diikat dan digantung dengan posisi kepala di bawah atau biasa dikenal dengan posisi “jungkir”. Kelak Kiai Aqrobuddin ini juga digelari dengan sebutan Mbah Jungkir.

"Usaha VOC untuk menyiksa Kiai Aqrobuddin ternyata tak membuat beliau patah arah. Dengan penuh tawakkal, beliau dapat melalui siksaan demi siksaan yang dilakukan  oleh Belanda. Alhasil, Belanda lah yang putus asa karena usahanya untuk membunuh Kiai Aqrobuddin tak kunjung berhasil. Karena putus asa Belanda kemudian dilepaskan Kiai Aqrobuddin tanpa syarat," terang Antin.

Pada akhir hayatnya, Kiai Aqrobuddin dimakamkan di belakang masjid tempat beliau mensyiarkan ajaran Islam. Selain meninggalkan sebuah masjid yang menjadi saksi bisu perjuangannya, beliau juga meninggalkan sebuah bedug keramat yang konon selalu berbunyi ketika memasuki waktu sholat di zaman dahulu. Meskipun sekarang sudah tak pernah berbunyi sendiri lagi, cerita tersebut dipercaya sebagai sebuah kisah nyata dan dikisahkan secara turun temurun.

Ia juga menuturkan, bahwa kegiatan haul seperti ini, merupakan tradisi untuk terus kita lestarikan, sebagai penghargaan kepada para tokoh agama atau alim ulama yang telah meninggal dunia seperti Kiai Aqrobuddin. Dimana semasa beliau telah berjuang guna syiar agama Islam, sehingga tentunya kita patut untuk mendo’akan.

"Mari kita jadikan kegiatan ini sebagai motivasi kita bersama untuk memperkuat Ukhuwah Islamiyah, serta memperkuat persatuan dan kesatuan, dalam mewujudkan tata kehidupan masyarakat Kendal yang aman, tenteram, damai dan semakin sejahtera," tutup Antin mengakhiri sambutan Bupati kendal.


Indeks Berita