Kendal – Bupati Kendal, Hj. Dyah Kartika Permanasari, menghadiri acara tradisi Weh-wehan di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Senin (24/8/2026). Tradisi tersebut digelar dalam rangka menyambut Bulan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Acara berlangsung sangat meriah, karena antusias warga luar biasa dalam menyambut puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dalam acara tersebut, Bupati Kendal bersama kepala Disporapar Kendal, serta Forkopimcam Kaliwungu langsung menyapa warga, sekaligus saling berbagi makanan mengikuti acara Weh-Wehan.
Bupati Kendal, Hj. Dyah Kartika Permanasari menyampaikan, bahwa keikutsertaannya dalam kegiatan ini merupakan wujud rasa syukur atas peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, tradisi ini tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga menjadi momen untuk meneladani sifat-sifat mulia Rasulullah.
"Ini sebagai wujud syukur di bulan Maulid untuk meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad SAW, termasuk untuk berbagi dan bersilaturahmi. Di era modernisasi sekarang, tradisi ini merupakan warisan budaya dengan tujuan yang sangat baik dan masih terus dilaksanakan," tutur Bupati Kendal.
Bupati Kendal juga menyampaikan, bahwa tradisi Weh-wehan saat ini telah didaftarkan oleh Disporapar Kabupaten Kendal ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dengan harapan tradisi khas Kaliwungu ini dapat lolos dan masuk ke dalam agenda nasional, Karisma Event Nusantara.
"Harapannya tradisi Weh-wehan bisa masuk ke Kharisma Event Nusantara sehingga tradisi ini dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat secara nasional," jelas Bupati Kendal yang juga akrab disapa Mbak Tika.
Mbak Tika juga menekankan pentingnya menjaga serta melestarikan warisan budaya lokal tersebut. Menurutnya, tradisi saling berbagi dan bersilaturahmi antar tetangga mampu mempererat tali persaudaraan, menjaga kerukunan, serta menciptakan kondusivitas wilayah di seluruh wilayah Kabupaten Kendal.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Desa Krajankulon, H. Abdul Latif, menyampaikan bahwa perayaan ini merupakan puncak (gong) dari rangkaian kegiatan peringatan Maulid Nabi yang sebelumnya diisi dengan pembacaan maulid setiap malam Jumat di kampung-kampung.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Kendal, terutama kepada Bupati Kendal yang sangat perhatian terhadap tradisi budaya lokal dan ikut memeriahkan bersama dengan warga.
Ia menjelaskan, dalam tradisi Wewehan ini, makanan Sumpil menjadi hidangan khas utama dalam acara tradisi Weh-wehan.
"Sumpil itu bahannya mudah didapat. Kita memaksimalkan apa yang ada di lingkungan kita, seperti daun bambu yang banyak tumbuh di desa untuk dijadikan pembungkusnya," ujar Abdul Latif.
Latif juga mengungkapkan sejarah tradisi tersebut. Menurutnya, tradisi Wewehan awal mulanya berkembang dari wilayah Krajan Kulon, khususnya di sekitar Masjid Besar Al-Muttaqin Kaliwungu. Seiring berjalannya waktu, tradisi saling berbagi makanan ini berkembang pesat hingga kini dirayakan secara serentak di hampir seluruh desa di wilayah Kecamatan Kaliwungu.
Diskominfo Kendal/Heri